manusia biasa – buka

seperti sudah saya utarakan sebelumnya mengenai tujuan didirikannya blog ini, adalah untuk membagi karya-karya tulisan saya, baik yang laku, dipaksa laku, atau tidak laku, kepada jiwa-jiwa lapar disekeliling saya..

mari kita mulai..

MANUSIA BIASA

sebenernya tulisan berbentuk hampir novel ini ditulis sebagai entri naskah untuk sayembara penulisan novel DKJ beberapa tahun yang lalu. sebenarnya dapat juara dua, tapi tidak diumumkan. jurinya bilang bahwa tahun ini hanya ada juara pertama saja. ini semacam sabotase buat karya saya. sabotase terhadap jalan saya untuk dikenal sebagai penulis berbagat di jagat ini.

manusia biasa bercerita mengenai masa-masa akhir kehidupan seorang pecundang. mengenai pentingnya sudut pandang. mengenai pentingnya sabar.

mari kita mulai

MANUSIA BIASA

– BUKA –

“Permisi…”

“Ya… Oh, Galang. Silahkan masuk Gal”

Sore ini Pak Bira memanggilku. Suatu kebetulan ketika sebelumnya aku juga berniat menemuinya, untuk menanyakan perihal gaji yang sampai tanggal lima ini, belum juga menunjukkan tanda-tanda akan dibayarkan.

“Silahkan duduk dulu Gal, saya selesaikan ini sebentar”, Pak Bira mempersilahkanku duduk seraya tetap berkonsentrasi pada beberapa lembar kertas dihadapannya, yang sepertinya berisi rekapitulasi angka-angka Rupiah.

Beberapa saat kemudian beliau telah sampai pada lembar terakhir. Beberapa saat terpaku pada lembar itu dan sekali lagi menyisir lembar demi lembar dari awal hingga akhir. Memastikan bahwa tidak ada yang terlewat dan bahwa semua masih berada dalam kendalinya. Mengangguk-angguk kecil, merapikan susunan lembar-lembar kertas itu dan kemudian meletakkannya di sudut meja. Setelah menyempatkan untuk memindahkan kacamatanya ke atas dahi, sesaat mencoba mencari posisi ternyaman dalam duduknya dan akhirnya siap denganku.

“Bagaimana hari ini Gal?”, Pak Bira membuka dengan basa-basi ringan.

“Seperti biasa saja pak, merapikan beberapa liputan yang lalu, belum ada yang spesial. Sedang sibuk pak?”, aku membalas basa-basinya.

“Ini, memantau sirkulasi. Pusing, hampir semua agen melakukan pembayaran mundur”, Pak Bira menunjuk kecil pada tumpukan kertas yang ditelitinya tadi.

“Wah, berarti gajian bulan ini mundur lagi ya pak?”, seakan aku tahu akan dibawanya kemana pembicaraan ini.

Kemudian Pak Bira mengusapkan tangan ke wajahnya, senyuman kecil yang sejenak lalu tersungging disana sebagai tanggapan atas kelakarku, hilang terbawa usapan tangan itu. “Ah tidak juga, gaji kamu akan saya bayar hari ini.”

“Terima kasih pak”, jawabku singkat.

“Ini bulan keempat kamu ya?”

“Benar sekali pak, akhir bulan yang lalu, saya telah resmi bergabung di majalah ini selama tiga bulan.”

“Ini begini Gal…”, beberapa saat kemudian beliau terdiam. Akupun merespon secukupnya pada pernyataan Pak Bira yang terpotong itu.

“… Emm begini, kita semua tahu kalau dua edisi terakhir ini majalah kita tidak terbit. Sebabnya, karena perusahaan sedang mengalami permasalahan finansial, tagihan sirkulasi macet. Seperti yang tadi sudah saya katakan, semua agen melakukan pembayaran mundur. Beberapa iklan yang masuk juga memilih cara pembayaran yang sama. Bahkan beberapa diantaranya hanya bersedia melakukan barter produk. Intinya kita tidak mampu membayar biaya cetak”, sekali lagi Pak Bira terdiam. Kali ini tidak terlalu lama.

“Dengan kita tidak naik cetak tersebut, memang banyak sekali pos biaya yang berkurang. Tetapi dengan tidak cetak, berarti juga tidak terbit. Otomatis dengan tidak terbitnya majalah, pos-pos pemasukan juga sangat berkurang. Bahkan praktis tidak ada pemasukan, kecuali tagihan-tagihan mundur yang memang jatuh tempo pada saat sekarang”, dan lagi, beliau terdiam.

Aku masih meraba-raba, kalimat-kalimat Pak Bira ini pasti akan berujung pada satu titik. Tetapi aku masih tidak tahu, dimana titik ujung itu berada. Aku hanya dapat sekali lagi memusatkan konsentrasiku, untuk menyimak kelanjutan kalimat-kalimat beliau tersebut.

“Sehingga, dengan tidak adanya rencana pemasukan ke depan itu, permasalahan yang kita hadapi menjadi semakin parah. Dengan kondisi perusahaan yang seperti ini, kalau tidak segera diambil langkah-langkah taktis penyelamatan, bukan tidak mungkin jika nasib majalah ini akan segera berujung pada kebangkrutan. Tentunya bukan akhir seperti itu yang kita inginkan.”

Pak Bira menegakkan tubuhnya, kemudian ia melanjutkan, “Pagi tadi saya bertemu dengan dewan komisaris di Kantor Pusat Kuningan, tentunya untuk mencari jalan keluar. Awalnya para komisaris itu merencanakan penutupan sesegera mungkin, sebelum kerugian semakin menjadi-jadi. Tetapi setelah saya berusaha meyakinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk mempertahankan majalah ini. Sayangnya keputusan mereka tersebut tidak didukung dengan pencabutan kebijakan yang telah mereka tetapkan sebelumnya, yaitu kebijakan tentang kemandirian anak perusahaan. Sehingga praktis sebenarnya keputusan mereka tersebut tidak berbuah positif pada nasib majalah. Kalau boleh saya ibaratkan, kondisi kita sekarang adalah seperti anak yang dibiarkan hidup, tetapi tidak diberi makan.”

Desas-desus tentang nasib perusahaan penerbitan majalah tempatku bekerja ini, memang sudah beberapa saat terakhir menjadi bahan pembicaraan hangat diantara para karyawan. Bahwa kesulitan keuangan yang dihadapi oleh majalah ini adalah karena kebijakan perusahaan induk, yang menuntut kemandirian seluruh anak perusahaannya. Dengan adanya kebijakan itu, praktis sejak dua bulan yang lalu, majalah dipaksakan mandiri dan tidak lagi menerima suntikan dana operasional. Sudah barang tentu, dengan tidak adanya suntikan dana operasional, perusahaan tidak dapat beroperasi secara normal.

Karena dengan umur majalah yang belum lagi genap dua tahun ini, majalah masih berada dalam tahap pengenalan kepada masyarakat sebagai target pasar. Alih-alih untung, majalah ini masih membutuhkan suntikan dana segar untuk menopang biaya operasional rutin setiap bulannya. Sehingga tidak dapat begitu saja disamakan dengan anak perusahaan lain, yang sudah mulai menangguk untung. Desas-desus itulah yang saat ini sedang diangkat oleh Pak Bira. Pak Bira memang sering memanggil kami, karyawan-karyawannya, untuk sekedar menemaninya berbincang-bincang di ruangannya ini. Kami menamainya sebagai ‘sesi curhat’, dengan Pak Bira sebagai pasiennya.

“Saya tidak tahu yang sedang kita hadapi ini aksi lepas tangan atau bukan, tapi komisaris menyerahkan semua kebijakan di tangan saya. Karena menurut mereka, sayalah yang meminta agar majalah ini dipertahankan. Bahkan ketika saya mengajukan beberapa alternatif jalan keluar, seperti kemungkinan penggabungan dengan majalah lain yang sepaham, mereka hanya berkomentar singkat ‘terserah!’”

“Lalu akhirnya bagaimana pak?”, aku menanggapi seadanya saja.

“Begini, dengan kondisi yang seperti ini, sekarang kita bukan lagi sekedar satu tim kerja, melainkan lebih dari itu. Sekarang kita semua adalah satu keluarga. Bahwa majalah ini adalah periuk nasi kita semua. Sebagai satu keluarga, tentunya bersama-sama kita harus menjaga agar periuk nasi ini tetap tegak berdiri”

Entah kenapa, ditengah kalimatnya yang bernada memuncak itu, Pak Bira kembali terdiam. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, akupun tetap diam dan menantikan kelanjutannya. Namun karena sedikit terlalu lama, aku mengira bahwa Pak Bira menantikan tanggapanku. Meskipun saatnya sedikit kurang tepat untuk sebuah tanggapan, akupun menanggapi singkat, “Iya pak, saya sepaham”.

“Dalam semangat untuk tetap menegakkan periuk nasi kita semua ini, ada beberapa kebijakan yang akan saya ambil berkaitan dengan efisiensi operasional. Salah satu langkah efisiensi tersebut adalah bahwa beberapa karyawan akan terkena pemutusan hubungan kerja. Sedangkan karyawan lain yang masih dipertahankan akan terkena pemotongan gaji. Kebijakan ini terpaksa harus saya ambil, agar perusahaan tetap dapat beroperasi. Saya sangat menyadari, bahwa ke depan, dengan berkurangnya anggota tim kerja, operasional majalah tidak akan selancar sebelumnya. Namun tidak ada jalan lain. Semua harus berkorban demi kelangsungan perusahaan, termasuk saya. Sedangkan anda, dengan sangat menyesal, anda termasuk dalam beberapa karyawan yang tidak lagi dapat dipertahankan”

Sejenak aku terperanjat kaku… kalimat-kalimat akhir itu seperti mengalir terlalu cepat untuk dapat kucerna dengan baik. Beberapa saat kemudian aku kembali menguasai diriku dan menyadari bahwa aku telah dipecat!

Aku belum pernah merasakan dipecat sebelumnya. Karena bekerja di majalah ini adalah pengalaman kerjaku yang pertama. Tetapi aku tidak mengira bahwa ungkapan-ungkapan seperti ‘satu keluarga’ dan ‘periuk nasi kita bersama’, adalah pilihan ungkapan yang lazim digunakan untuk mengawali sebuah berita pemecatan. Aku tidak mengerti.

Bagaimana mungkin setelah seorang manajer mendeklarasikan bahwa kami semua adalah satu keluarga, kemudian dia memecat orang yang baru saja diangkatnya menjadi bagian dari keluarga itu? Bagaimana mungkin setelah seorang manajer mengungkapkan bahwa majalah ini adalah periuk nasi kita bersama, serta merta kemudian dia mengatakan bahwa majalah ini bukanlah periuk nasi bagiku? Susah payah aku mencari korelasi diantara kedua pernyataan yang anomali tersebut.

“Tetapi jangan gusar dulu”, Pak Bira cepat melanjutkan kata-katanya. “Saya harap Galang memahami posisi saya, bahwa sangat berat bagi saya untuk melepaskan anda. Saya mengapresiasi baik kinerja anda selama ini. Tentunya sebuah kehilangan besar bagi majalah ini untuk melepaskan potensi sekualitas anda. Tetapi saya juga harus adil terhadap semua. Bahwa Galang adalah termasuk lima karyawan yang bergabung paling akhir dengan majalah ini. Sehingga saya tidak mempunyai pilihan lain. Seandainya saja Galang bergabung lebih awal, tentunya keadaan akan jauh berbeda”

Penjelasan Pak Bira tersebut sedikit memberikan pencerahan mengenai duduk persoalan yang terjadi. Bahwa aku termasuk dalam lima karyawan yang paling akhir bergabung. Karena perusahaan perlu melepaskan lima karyawan sebagai bentuk efisiensi, maka pilihan untuk melepaskan karyawan-karyawan dengan kriteria tersebut, memang terasa cukup adil bagi semua.

Tetapi bukankah setiap karyawan memiliki tanggungjawab pada bagian pekerjaannya masing-masing? Bagaimana jika salah satu dari kelimanya adalah Dody, sang photographer, atau Jojo, sang layout designer, yang hanya merupakan karyawan satu-satunya pada bagiannya? Apakah majalah arsitektur seperti ini akan beroperasi dengan tanpa photographer? Atau tanpa layout designer? Atau bahkan ketika salah satu dari kelimanya adalah Pak Bira sendiri? Mengingat manajer yang satu ini juga belum genap satu tahun bergabung. Tidak ada klausul dari kebijakan tersebut yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Belum lagi aku tuntas berargumen dalam hati mengenai hak-hak hidupku untuk memperoleh penghidupan yang layak, yang baru saja dikebiri, Pak Bira sudah kembali melanjutkan kalimatnya.

“Namun, sebagaimana telah saya utarakan di depan tadi, bahwa saat ini kita adalah satu keluarga dan bahwa majalah ini adalah periuk nasi kita bersama, maka keputusan penonaktifan Galang dan beberapa teman lainnya ini, patut dimaknai hanya sebagai keputusan administratif belaka. Karena saya memang dituntut untuk melakukan langkah kongkrit efisiensi untuk kemudian saya laporkan kembali kepada dewan komisaris.”

“Maksudnya pak?”, penonaktifan sebagai keputusan administratif belaka? Apa pula maksud manajer satu ini?!

“Maksud saya begini, bahwa mulai besok dan seterusnya, anda silahkan masuk dan bekerja seperti biasa saja. Hanya saja perlu anda tanamkan dalam benak anda, bahwa diakhir bulan nanti, anda tidak akan lagi menerima gaji”

Aku tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa. Bagaimanapun juga pernyataan Pak Bira itu tidak dapat dicerna oleh akal sehat, pun oleh teori logika apapun. Bagaimana mungkin setelah dipecat, aku harus tetap masuk dan bekerja seperti biasa, tetapi diakhir bulan aku tidak akan menerima gaji lagi? Apakah aku harus bekerja sukarela? Ataukah mungkin bahwa akan ada bentuk kompensasi lain atas waktu dan fikiran yang kucurahkan pada majalah ini selain gaji? Pahala misalnya? Aku hanya bisa mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketakjubanku atas jalan fikiran sang manajer.

“Ini hanya sementara. Setelah kita dapat melewati masalah ini, setelah nanti majalah kembali mapan secara finansial, anda dan teman-teman lainnya akan diangkat kembali seperti sedia kala. Sehingga dengan tetap bergabungnya anda dan teman-teman lainnya, bahwa majalah tetap berjalan dengan kekuatan penuh, saya yakin bahwa bersama-sama kita akan menyelesaikan masalah ini lebih cepat. Tentunya tujuan itulah yang kita inginkan bersama”, Pak Bira menatapku dengan begitu kuatnya. Seolah-olah dia ingin mendoktrinasiku dengan jalan fikirnya yang aneh itu. Seaneh jalan fikiran yang menyatakan bahwa melakukan bom bunuh diri ditengah kerumunan masa, adalah salah satu bentuk perjuangan suci.

“Pertama saya mau mengucapkan terima kasih pak. Karena walaupun baru sebentar saya bergabung, saya sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga, begitu pula sebaliknya. Dari penjelasan bapak, sepenuhnya saya juga dapat mengerti kondisi keuangan majalah saat ini. saya juga memahami tekanan pusat kepada bapak dan saya dapat menerima keputusan penonaktifan saya tersebut. Pada sisi-sisi idealis saya, saya mencitakan bahwa bergabungnya saya dengan majalah ini dapat menjadikan majalah ini meraih keberhasilan.”

Setelah mengambil nafas, kembali kulanjutkan, “Namun bagaimanapun juga, saya harus realistis. Sisi realistis saya itu mengharuskan saya untuk dapat tetap hidup. Sehingga saya membutuhkan penghasilan yang kongkrit untuk dapat mewujudkan paksaan sisi realistis saya tersebut. Oleh karenanya, mungkin akan lebih baik jika untuk sementara saya dapat mencari penghasilan di luar majalah ini. Namun demikian, tentunya untuk dapat kembali bergabung dengan majalah ini, adalah menjadi prioritas utama saya. Saya akan selalu siap jika nantinya majalah ini juga telah siap menerima saya kembali”, untuk sementara ini aku hanya bisa jujur terhadap kondisiku sendiri. Bahwa kondisiku saat ini belum mengijinkanku untuk membagi potensiku secara sukarela kepada siapapun.

Beberapa lama kami sama-sama terdiam. Pak Bira hanya menatapku secara konstan sebagaimana pada saat aku berbicara tadi. Beberapa kali aku menganggukkan kepalaku kepadanya, untuk mengisyaratkan bahwa aku telah selesai dengan pernyataanku, dan selayaknya perbincangan yang normal, sekarang giliran Pak Bira untuk menanggapi.

Walaupun sedikit terlambat, akhirnya Pak Bira bereaksi juga. “Baiklah. Kalau itu memang yang terbaik bagi anda, tentunya baik juga bagi kita semua. Saya sudah tidak memiliki kapasitas lagi untuk menahan anda. Saya hanya dapat berharap dan bekerja lebih giat, agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan dan kita semua dapat bekerja sama lagi. Begitu?”

Akupun mengakhirinya dengan anggukan kepala dan sedikit senyum. Tak lama kemudian, Pak Bira mengatakan bahwa malam ini gajiku akan ditransfernya ke rekeningku. Setelah sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, kami sama-sama berdiri, berjabat tangan, dan akupun resmi menjadi pengangguran.

bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s