The tricky Ramadhan..

The tricky Ramadhan..

Ramadhan belum lagi menginjak pada setengahnya. Suasana khas penuh ibadah masih menyelimutinya. Untuk shalat berjamaah, untuk menyimak kajian-kajian, atau untuk sekedar tidur yang juga dijanjikan pahala padanya. Mengusahakan lebih banyak waktu untuk bersentuhan dengan alQuran. Mengawali setiap laku dengan basmallah. Mencoba meraup lebih banyak pahala, lebih banyak bekal, mumpung murah..

Sebagai orang yang begitu perhitungan, cenderung pelit, saya juga melihat Ramadhan sama dengan kebanyakan mereka. Sebagai peluang, sebagai kesempatan untuk dapat menimbun pahala. Sebagai bekal di kehidupan selanjutnya, atau sekedar sebagai alasan untuk kembali membungkus alQuran dan menyimpannya untuk kembali di buka pada Ramadhan mendatang. Sebagai alasan untuk menyalakan televisi dan kembali menggandrungi berita-berita politik daripada menggerakkan kaki menuju masjid untuk memakmurkannya. Toh, pahala yang saya kumpulkan pada Ramadhan kemarin sudah cukup untuk menjadi bekal menjalani hidup sampai Ramadhan berikutnya.

The tricky Ramadhan..

Saya bukanlah tergolong pada hamba yang berkecukupan iman. Saya lebih tergolong pada mereka yang berusaha ‘lebih pintar’ dari Tuhan dalam hal berhitung, yang memperhitungkan antara pahala dan dosa. Yang hanya mengusahakan agar hasil perhitungan tersebut, setidak-tidaknya lima puluh persen plus satu, untuk kemenangan pahala atas dosa, sehingga surgalah bagi saya. Tergolong pada mereka yang merasa tahu, padahal tidak kecuali sangat sedikit. Tergolong pada mereka yang diberi kepintaran, dan malah kemudian menggunakan kepintarannya itu untuk jeli mencari celah diantara perintah dan laranganNya. Berusaha menemukan luput, dari Sang Maha Sempurna. Jauh dari predikat ahli ibadah. Apalagi ma’rifat. Sufi, Sangat-sangat jauh.

Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi mereka yang seperti saya. Cara cepat untuk mendapatkan beberapa persen plus satu, untuk kemudian membalikan keadaan. Sebulan penuh berpeluh dalam ibadah dan upaya menimbun pahala, untuk kemudian dapat berfoya dan menghamburkannya pada sebelas bulan lainnya. Dan perfoyaan ini akan terus berlanjut sampai mati jika saya berhasil mendapat lotere bertajuk malam Qadar.

The tricky Ramadhan..

Menjadi sesumbar karena merasa telah berhasil mencurangiNya. Benarkah Ramadhan dapat diterjemahkan sehitam itu? Benarkah Ramadhan diciptakan sebagai semacam pemutihan bagi hamba-hamba seperti saya? Yang kemudian nakal memanfaatkannya sebagai celah. Untuk dapat secara simultan menjaga jarak dariNya, tetapi tetap menang dalam perhitungan kelak?

Benarkah saya telah menang atasNya? Atau sebenarnya saya hanya merasa menang padahal sebenarnya terjebak dalam permainanNya?

The tricky Ramadhan..

Agama ini menerjemahkan dirinya sendiri dengan bahasa mengambang. Bahasa yang multi tafsir. Bahasa yang mengizinkan prespektif. Bahasa yang menghalalkan subyektifitas. Agama ini selayaknya kertas putih, tetapi ia akan terlihat hitam jika anda melihatnya dengan mata terpejam.

Agama ini bisa dipandang dengan niatan buruk, mencari-cari kekurangan, sehingga pemandangnya akan mendapatinya benar, bahwa ia begitu penuh kekurangan, begitu jauh dari kesempurnaan, dan kemudian menjadi semakin tersesat darinya. Agama ini bisa dipandang dengan niat baik, dengan kacamata iman, sehingga pemandangnya akan mendapatinya benar, bahwa ia adalah rahmat bagi alam semesta dan kemudian mendapat petunjuk darinya.

The tricky Ramadhan..

Melihat dengan kacamata oportunis, seperti selazimnya kacamata saya, maka seperti diataslah keadaannya. Saya akan berstrategi. Kapan saya harus beribadah dan jeli memilah ibadah mana yang akan memberikan satuan pahala yang menguntungkan. Tentunya saat itu adalah Ramadhan, lupakan yang lain. Sedangkan ibadah apa? Tentunya semua ibadah. Tidurpun ada pahalanya.

Saya akan menjadikan diri saya sebagai mesin ibadah. Mesin pengumpul pahala. Saya akan berbisnis dengan Tuhan. Saya akan shalat, berapa Kau berani beri? Saya akan puasa, berapa akan Kau beli? Saya akan membaca alQuran, berapa akan Kau bayar?

The tricky Ramadhan..

Seketika saya merasa begitu tidak nyaman. Siapa Dia ini, sehingga saya merasa pantas berbisnis dengannya? Bukankan Dia Tuhan saya sendiri? Tuhan yang telah menciptakan saya tanpa kemudian mendapat sedikitpun manfaat dari keberadaan saya? Lalu mengapa saya begitu perhitungan dengannya? begitu malunya saya ini!

Kewajiban saya sebagai hamba hanyalah beribadah dengan taat dan ikhlas. Menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Kemudian atas itu, Tuhan bermurah untuk memberikan imbalan berupa pahala sebagaimana janjinya. Kewajiban saya adalah beribadah. Bukan mencari pahala.

The tricky Ramadhan..

Tetapi tawaran pahala pada Ramadhan ini begitu menggiurkan. Bukan hanya bagi saya. tapi bagi semua yang seperti saya. Semua yang mengejar pahala. Semua yang menjadi setingkat lebih rajin dalam ibadah daripada biasanya. Semua yang telah terkecoh dengan Ramadhan.

Semua yang secara tidak sadar, telah beribadah karena pahala. bukan karena Tuhannya. Seketika kemudian saya merasa begitu menyesal. Karena telah begitu transaksional terhadapNya. Karena telah begitu rajin disaat Ramadhan. Karena tidak lagi rajin diluar Ramadhan.

The tricky Ramadhan..

Begitu sakit saya ini. Karena telah tidak sadar menjadikan pahala sebagai dasar ibadah saya. Menjadikan pahala sebagai seolah-olah Tuhan baru bagi saya. Karena ternyata saya murtad dalam keislaman saya. Karena ternyata saya syirik dalam keimanan saya. Tidak lebih dari mereka yang begitu hina menuhankan dunia. Menuhankan harta.

Maka pahala pasti akan saya dapat atas ibadah-ibadah saya itu. Sebagaimana saya meniatkannya. Karena Dia tetaplah sang maha pemberi. Tetapi apakah saya akan mendapatkan ridha-Nya? Ketika saya lupa menjadikannya sebagai niat saya.

The tricky Ramadhan..

Ya Allah, apa maksudMu dengan pahala-pahala ini?

Ya Allah, maafkan saya. Saya yang belum mampu ber-istiqamah kepadaMu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s